Showing posts with label Sentimental. Show all posts
Showing posts with label Sentimental. Show all posts

Wednesday, May 17, 2017

Handle with care

My ride at the foot of Mount Bromo


Handle my heart with care
As it's not made of pure gold
Nor made of stone
It's just made of some fragile glass
Once broken, considered gone
So handle it with care.

Mima Zohds
170517

Tuesday, May 16, 2017

HENTIAN INI

Roda-roda
Tidak perlu sentiasa berputar
Mencari sasar
Ada kalanya perlu berhenti
Menghilang lelah
Menikmati indah hidup ini

Mima Zohds
160517

SELAMAT HARI GURU!

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

Wednesday, April 19, 2017

SEWA PAYUNGKU BU



Mungkin kau tak perlu payungku ini
Kerna hujan pun sudah berhenti
Tak mungkin kau kan basah nanti
Matahari juga sudah tidak terik
Tak mungkin kulitmu kan berasa perit

Namun sewalah payungku ini
Hanya 5000 rupiah
Buat mengisi perut-perut yang sedang menyanyi
Anak-anakku yang menunggu di rumah.

Nukilan,
Mima Zohds
Prambanan

Saturday, August 13, 2016

Istimewa rumah nenek

Lama tidak terdengar kokok ayam. Subuh tadi terdengar ayam berkokok dan terus terimbau kenangan lama. Waktu kecil-kecil dahulu, kalau terjaga dari tidur dan terdengar bunyi ayam berkokok, hatiku pasti terasa lega yang teramat-amat. Itu tandanya aku berada di rumah datuk dan nenek!

Kenapa lega?

Di rumah ada ibu bersuara halilintar dan sangat tegas (aku selalu kena rotan);
di rumah nenek ada nenek yang lembut bicara dan banyak bertolak-ansur. 😍

Di rumah ada adik-adik yang usianya lebih muda dan aku dipertanggungjawabkan sebagai kakak sulung;
di rumah nenek ada pakcik makcik yang lebih berusia daripadaku dan aku berpeluang menjadi adik kecil... 😁

Di rumah, dindingnya kiri kanan batu tidak bertingkap (rumah teres) dan halamannya kecil serta berpagar;
Di rumah nenek, dinding mana-mana arah pun ada banyak pintu dan tingkap, saujana mata memandang, manakala halamannya luas... di hadapan ada kolam ikan dan kebun jambu air, di tepinya pokok jambu batu dan pokok-pokok orkid, dan di belakangnya ada pokok sukun dan kebun nenas.

Di rumah, waktu senggang di isi dengan bermain basikal sekitar kawasan perumahan ataupun main berlakon-lakon dengan adik-adik di dalam bilik;
Di rumah nenek, waktu senggang aku dan makcikku bermain masak-masak pucuk paku yang di petik di kebun getah sebelah, dengan menggunakan kuali dan api sebenar di kebun nenek, atau membuat wau bulan dan melayangkannya bersama pakcik makcik yang lebih dewasa di halaman rumah jiran.

Indahnya kenangan hidup di kampung. 😊


Thursday, August 18, 2011

The Somalians' Plight: Let's be part of their solution...


This Ramadhan, unlike the previous ones, I don't really feel excited about eating. It's the 18th day of fasting, and I haven't even been to the Ramadhan Bazaar, not even once, can you believe it?

Every day I cook minimal food for sahur and iftar for my hubby, son and myself - something that we can finish there and then, hoping for no leftover food that I would have to throw away.

And this is because everyday I would see the pictures and read the plights of our brothers and sisters in Somalia... oh, how different their babies and children look compared to our chubby ones! How can we not respond to them and leave them suffering while we have so much food to savour and to waste?

So dear brothers and sisters, let's tone down our preparation for Eidul-fitr this year. We've already got a lot of clothes that we can still use in Syawal - well, we don't need 3 or 4 pairs per person in the family, do we? A new pair for the eid prayer is sufficient enough. And, do we need to have so many types of cookies on our table in Syawal? I've seen houses with more than ten, sometimes up to twenty different jars of cookies - which would still be there even after Syawal was over - not able to be finished.

Let's channel some of our budget to those who need it more than us. Not for them to enjoy celebrating Eidul-fitr the way we would, but for them to survive. Support Islamic Relief Malaysia's efforts to help save their lives.

Wednesday, August 04, 2010

Demi pembangunan


Agaknya brp lama lagikah dpt aku nikmati pemandangan sebegini sebelum bukit itu digondolkan?

Friday, July 09, 2010

Mimpi

Sesekali terusik juga perasaan
oleh kenangan
dan angan tak kesampaian

Sesekali keliru juga mindaku
terusik jiwa melihat dia
ilusi dan realiti kelam kelabu

Sesekali terlerai juga rindu
pada insan-insan yang lama tak ketemu
pada masa yang telah berlalu

Mimpi
hadirnya sedetik cuma
manisnya menggetar sukma

Mima Zohds

Monday, March 22, 2010

Bercucuran airmata

Begini rupanya perasaan ibu yang kehilangan anaknya. Tidurku tak lena, mandi pun tak basah - lebih teruk daripada orang bercinta. Siang malam berjuraian airmataku mencurah. Kalau ditadah, dah bercawan-cawan gamaknya. Tak mengapalah...

Antara airmata dan cita, biarlah airmataku yang tumpah asalkan citaku dan citamu tercapai. Antara ilmu dan rindu, biarlah kupendamkan saja rindu yang membuak-buak ini asalkan dadamu sarat dipenuhi ilmu.

Ingatlah anakku, setiap titis airmata dan setiap hela nafas rinduku diiringi dengan do'a agar kau mampu menjadi insan yang mulia di dunia dan di akhirat. Amin...

Sunday, March 14, 2010

Selamat jalan


Telah banyak yg kita tempuhi bersama, suka duka, tangis dan tawa. Dari putih ke mocha silver, kau menemaniku ke LKW, PM, Amway, Avail, MFI dan USIM, meneroka pengalaman, menimba ilmu, mengejar impian dan mengenalpasti bakat terpendam juga kelemahan diri. Bersamamu siang dan malam kutemui manusia2 hebat lagi mengkagumkan.
Kau seumpama tangan yg memimpinku untuk menjadi lebih dewasa, seumpama sayap yang membawaku terbang demi melihat dunia yang lebih luas dan akhirnya seumpama kaki yang mengembalikanku berpijak di bumi nyata. Bersamamu akhirnya kutemui jati diri, siapa aku sebenarnya dan apa mahuku.
Sungguh sedih melepaskan kau pergi jauh dari pandangan mata ini buat selama2nya. Jasamu terlalu banyak sungguhpun kadang-kala kau meragam dan terpaksa kupujuk menggunakan wang! Dengan hati yang berat akhirnya kurelakan kau pergi - semoga kau mampu terus berbakti - menemani seorang lagi manusia mengenali erti dewasa. Pergilah satria - sungguhpun kau hanya Iswara, kaulah satria hidupku.

Friday, December 11, 2009

Stay from Cinderella '80 the movie



I still remember how crazy we, the hostel girls, were when we watched the movie on TV3, a new station then.

The movie is a modern version of Cinderella. The girl, Cindy, like Cinderella, has a stepmother and two stepsisters who take advantage of her. Her life becomes meaningful after a so, so, so, so, very, very, very cute boy (that was what we thought then) comes into her life. He appears to be a poor musician, and they spend a lot of their time in a green house for plants. At the end of the story, she discovers that he's actually a prince and she feels cheated. But then, love always wins - they make up and I suppose they live happily ever after, just like Cinderella and her prince charming.

The movie had really moved us, and the theme song "Stay" became our favourite. All of us were head over heels in love with Pierre Cosso and wished that we were Bonnie Bianco singing this song with him. Oh... the way he looks at her in the movie could have killed any of us had he really looked at us that way. We drooled just looking at his beautiful eyes.

So strong was the effect of the movie on us, that one day, knowing that TV3 was having a rerun of the movie and the hostel rule was such that we couldn't watch TV on weekdays, we had actually used a small saw to remove the padlock locking the TV and watched it secretly. We had bought a new padlock beforehand to replace the one we had planned to saw, and then gave the new key to the hostel prefects, coming up with excuses like we had accidentally broken the old key inside the old padlock and therefore had taken the responsibility to replace it.

I can't remember if the hostel management had actually discovered the truth or not. However, I would always remember one of the most powerful movies that had affected me, as well as my friends, as we were growing up together at the hostel - Cindy 80, and a song that has become so sentimental to all of us - Stay.

Friday, July 31, 2009

Ahlan ya Ramadhan...

Rindunya pada Ramadhan
pada sejuk sebelum subuh
sewaktu dulu kita bersahur
adakala kita terlena di meja
sedang mama leka memasak aneka juadah
pembuka selera anak-anak yang kelopak mata masing-masing
masih melekat kuat
sehingga terdengar bunyi azan
"tak apa..." kata mama, "makan cepat-cepat"
sedang mama hanya melihat dan meneguk air liur saja

Rindunya pada Ramadhan
pada pedih perut di waktu tengahari
diiringi kering tekak hingga ke petang
"itulah rasanya orang miskin yang tak punya apa-apa
untuk dimakan atau diminum," kata mama
"bersyukurlah atas apa jua nikmat yang Allah beri kepada kita,
kerana ia masih lebih baik dari kebanyakan orang yang malang"
dan kita pun terus berusaha berlatih menahan kesabaran

Rindunya pada Ramadhan
pada keresahan di penghujung hari
saat penantian waktu berbuka
kita masing-masing begitu teruja
makanan dan minuman terhidang di atas meja
dan kita setia menadah tangan untuk membaca do'a berbuka
walaupun azan hanya akan berkumandang sepuluh minit lagi
namun kita tak peduli, terus menanti
sungguhpun kekadang "terlupa" lalu "ter"minum air
yang "berpeluh-peluh" di luar gelas yang menunggu kita

Rindunya pada Ramadhan
pada lunak bacaan Qur'an di malam hari
di radio-radio dan TV
juga suara mama memecah sunyi
menjerit memanggil kita turut mengaji - "bertadarrus"
juga rindu pada suara Imam di Makkah
pada jam 3-4 pagi semasa siaran langsung
solat tarawih dari Makkah di kaca TV
sungguh, hanya pada bulan inilah pun
kita lama sedikit di tikar sejadah...

Rindunya pada Ramadhan
berdebar-debar hatiku menanti ketibaannya lagi
seumpama kekasih yang sudah lama takku temui
menitis air mata dan sebak dadaku
mengharapkan ketibaannya kali ini
dan mengharapkan panjangnya umurku
serta keizinan Allah agar dapat kami bertemu kembali

Rinduku padamu Ramadhan
seumpama pungguk merindukan bulan.

Saturday, July 18, 2009

HEART

1988-1993
Originally published in Geocities in 1999.


I

WAITING


Every minute in every day

Every moment in every way

is spent only on

waiting for YOU


Every thought during the days

Every dream at nights

is filled only

with images of YOU


I'm waiting for you because:


the sun does not smile

the rain does not cry

the moon does not show up

the breeze does not blow its kisses

since you're not around


Everything is cold

everything is dull

no longer the world beautiful

when you are not around


I'm wondering whether you're thinking of me

I'm waiting whether you'll be coming to me

I miss you, do you miss me too?


Mima Zohds


II
A POEM FOR MY LOVE

The sun shines brightly

the cool breeze caresses my cheeks

all the flowers are dancing

as if they are happy


The world seems beautiful

as it had never been before

and all of these changes

happen when I'm with you


Thank God for this most wonderful friend

who shines my life with his smile


Thank God for this very special friend

who has stolen my heart by showing he cares.


Mima Zohds

SOUL

1988-1993
Originally published in Geocities in 1999.



DALAM DIRI 1

Di persimpangan ini

aku terhenti

aku tertanya-tanya

ke mana aku nak pergi

Jalan yang kanan atau yang kiri

atau yang sedia terbentang di tengah-tengah

Jika ke kanan, pasti banyak tentangan,

Jika ke kiri, pasti aku tersesat,

Jika ke tengah, pasti tiada rintangan,

tetapi pastikah aku

tidak akan tersesat?


Mima Zohds

DALAM DIRI 2

Ustazah Siti Hajar pernah bercerita:

"Dunia ini ibarat pentas dan manusia adalah ibarat pelakon-pelakonnya. Satu hari nanti pentas ini akan digulung, dan setiap lakonan akan dihitung..."

Ustaz Nik Daud juga pernah mengajar:

"Manusia dijadikan Allah untuk menyembahNya. Kita lahir ke dunia dengan ikatan janji terhadapNya untuk menunaikan tanggungjawab sebagai Hamba dan Khalifah Allah di muka bumi ini..."

Abang Koji pun pernah mengingatkan:

"Islam memang menyuruh kita bersederhana tetapi itu tidaklah hermakna dalam menunaikan perintah Allah pun kita bersederhana, sesiapa yang berusaha melaksanakan hukumnya dengan lengkap dituduh "extreme"...

Kini hatiku pula berkata:

"Ah... tersilap konsep aku rupanya... bersederhana hanya dalam menunaikan perintah dan larangan Allah sahaja, sedang dalam hal lain tak pula aku ingat untuk bersikap sederhana. Berlakon... selama ini berlakon saja aku rupanya. Aku tak perasan pula peranan apa yang aku dah bawa, penjunjung titah atau pendurhaka? Apakah perananku sebagai Hamba dan Khalifah Allah telah aku jalankan dengan berkesan... yang patuh atau yang engkar? Yang meninggalkan rasa kasih atau rasa benci...pada Penghitung lakonanku?"


Mima Zohds



TAZKIRAH: Dari petang ke petang

Adakalanya

kita kurang meneliti ciptaan Tuhan

kita lupa Dia yang menjadikan

lalu kita angkuh dalam kehidupan


Adakalanya

kita terlupa bahawa kita adalah hambaNya

lantas kita pilih jalan sendiri

tanpa menghiraukan jalan yang disediakan

atas dasar 'kesederhanaan'


Zaman ini

zaman manusia kembali kepada agama

sebagai ad-din

tapi aku masih ketinggalan

kerana gagal menembusi tembok kehidupan.


Mima Zohds


LOVE

1988-1993
Originally published in Geocities in 1999.




SAJAK BUAT DIA 1


Bukan aku seorang penyanyi

Untukku dendangkan lagu-lagu sepi

(Sedih pilu)


Bukan pula aku seorang penyair

Untukku gubah kata-kata puitis

(puja rayu)


Bukan juga aku seorang pelukis

untukku coretkan warna-warna perasaanku

(tak menentu)


Aku hanya seorang perindu

yang hanya mampu berkirim salam di angin lalu

(buatmu).



A POEM FOR HIM 1


Too bad that I am not a singer

otherwise, I would sing those lonely songs

(sad emotion)


Neither am I a great poet

if it's so, I would compose some love sonnets

(pleading and worshipping)


Nor am I a great artist

or else, I would paint the colours of my heart on a canvas

(rickety)


I am just a poor dreamer

who keeps wishing that the wind

would whisper my love wishes

into your ears.


Mima Zohds




SAJAK BUAT DIA 2


Jika aku ini cermin

akan ku cermin ke dalam dirimu

untuk ku lihat hati budimu


Jika aku ini penyelam

akan ku selami lubuk hatimu

untuk ku ukur dalam kasihmu


Jika aku ini ikan

akan ku renangi lautan perasaanmu

untukku tahu jauh rindumu


Tapi aku hanyalah

seorang manusia sepi

yang setiap malam menunggu pagi

sambil bertanya pada diri

"Adakah matahari akan bersinar untukku lagi?"



A POEM FOR HIM 2


If I were a mirror

I would be able to reflect your inner thoughts

and I would know what's inside your mind


If I'm a diver

I would dive in the depth of your eyes

to find out how deep is your love for me


If I were a sea-creature

I would be roaming in the sea of your feelings

and see exactly how much you miss me


Unfortunately, I'm a plain loner

who would wait for the nights

to turn into days

and at the same time wondering

whether the sun would keep on shining

for me.


Mima Zohds




SAJAK BUAT DIA 3


Gembira

mendengar suaramu

di hujung sana

hati jadi lapang, riang,

dunia jadi terang, girang,

dan aku terus jiwang.



A POEM FOR HIM 3

So happy

to hear your voice

on the other side of line

my heart becomes light and cheerful

the world becomes bright and colourful

and I... have fallen deeper in love.


Mima Zohds

Friday, July 17, 2009

SPIRIT

1988-1993
Originally published in Geocities in 1999.



I
AKU SIANG-SIANG


Aku sepatutnya bersemangat waja

tapi aku siang-siang

bersemangat tahi ayam saja


Aku sepatutnya berjuang

menebus maruah bangsa

tapi aku siang-siang

sudah putus asa


Aku sepatutnya berusaha

mencapai kecemerlangan

tapi aku siang-siang

sudah bosan menghadapi cabaran


Aku sepatutnya terus mencuba

tapi aku siang-siang

kibar putih warna bendera


Aku sepatutnya

tapi aku siang-siang

aku mula tertanya-tanya

ke mana arahku akhirnya?



DEFEATED TOO EARLY


I'm supposed to be strong-willed

but I've been disheartened

too early beforehand


I'm supposed to be fighting

to regain the honour of my race

but I've been feeling discouraged

too early beforehand


I'm supposed to strive for excellence

but I've been feeling tired of facing the challenges

too early beforehand


I'm supposed to keep on trying

but I've been waving up the white flag

too early beforehand

I'm supposed to...

but I've been too early beforehand...

I'm beginning to wonder

where exactly am I heading to?


Mima Zohds




II
AKU DAN DAUN

Pagi, basah embun, segar hijau.

Tengahari, terik sinar mentari, kuning lesu.

Petang, tenang sepoi bayu, maut di pintu.

Malam, timpa hujan renyai,

selamat tinggal pohonku.



THE LEAVES AND I


Morning, damp, dew drops,

fresh and green.

Early afternoon, sweltering,

sun drenched, yellowish, comatose.

Late afternoon, gusty, breezy,

depleting, death knocking at the door.

Night, rainfall, it's drizzling,

goodbye my tree.


Mima Zohds




III

AS LONELY AS I AM


I never feel as lonely as I am

Nowhere to go to

Nobody to talk to

No group to whom I belong to

Where are my best friends

With whom I can spare my thoughts easily

to share my dreams,

my happiness and sorrows

No more laughing together

No more crying together

(I see... our togetherness is not forever)

Friends... greatest friends,

I do miss you like hell!


As lonely as I am,

Mima Zohds

Perjalanan

1988-1993
Originally published in Geocities in 1999


Dalam meniti sebuah perjalanan
tidak ada ertinya kita berpatah balik
mahu ataupun tidak
terpaksa juga kita memilih satu jalan
antara persimpangan demi persimpangan
dan dalam meneruskan perjalanan
kita akan temui manusia-manusia baru
dalam diri kita sendiri!

A journey would be meaningless
should we have to turn back
whether we like it or not
we got to choose one way
amongst the many junctions we come across
and as we continue along our journey
we will meet someone new
within ourselves!

MIMA ZOHDS

Once upon a time...

Alamak! Geocities is shutting down... and once upon a time, when I was so 'jiwang', I had written a lot of 'jiwa-jiwa' poems. Back in 1999, when I got so interested in the Net, I had self-taught myself on how to create a website with the help of Yahoo PageBuilder, Frontpage's "Help" pages and a few online buddies then. And guess what was the content? All of my 'jiwang' poems, of course - with translations, and background music! They're still available now at http://www.geocities.com/azimahmt/ but they won't be there anymore beginning October 26, I reckon.

And 'coz I'm a sentimental person and I've a failing memory (getting old, I suppose), now I have to copy all those "masterpiece" poems of mine (LOL- of course I'm being sarcastic to myself ;)) and move them here so I can remember all those days when I was just a shy and confused young girl who had kept my feelings to myself. :)

Friday, March 06, 2009

The Elephant Song

The trip to Kuala Gandah has actually evoked my memory on 'The Elephant Song', or rather, the lesson that I had with my English teacher, Mdm. Rumini, when I was in Astopunk back in 1986 or '87. As we walked on the land of the elephants in Kuala Gandah, this song had been playing in my mind over and over.

It was a moving lesson, singing and comprehending the song, with the discussion on the cruelty of poachers and the elephants' conservation. I was deeply affected by the song and the discussion that I had felt like crying... couldn't tell if I had actually cried indeed.

Years later as a teacher in Kuala Rompin, Pahang, a student had offered me some meat of a mouse deer which he claimed to have hunted it himself. Well, it was tempting... but as I was teaching the topic "Conservation of the wild animals", it just didn't feel right for me to accept it. I had recalled this song then, and had searched high and low for it so that I could teach it to my students - hoping that I could somehow contribute to their awareness to stop the killing of these precious animals. I couldn't lay my hand on this song then, though... That was the year 1993 and I wasn't exposed to the Internet yet.

Luckily the technology is here today for a teacher like me to find almost any songs she needs for her classroom. Today, I've found this song that had touched and still touches my heart and my conscience. I'm thankful for the technology and thank you to everyone who has made it possible.

Sunday, November 09, 2008

Cerita-ceriti Raya


My other group of new children in USIM:
Awin, Ekin, Syida, Farah, Pijah, Fatehah, Nik, Fizah, Aty, Izzaty & Wawa
- Abdullah Fadzil (jurugambar)

Raya tahun ni memang terasa meriahnya. Entah kenapa selama bertahun-tahun aku tak pernah suka beraya, tapi tahun ni rasanya seronok sungguh... walaupun tahun ni turn raya di rumah mak mertua, dan plan aku nak tukar langsir baru (yg ada tu dah 3-4 kali raya) tak menjadi... Punya la sakan beraya minggu pertama, sampaikan minggu kedua aku kong kerana demam teruk...

Dalam pada suka2 tu, sedih pun ada, kerana dgn tamatnya Syawal, tamatlah servis aku di USIM dan MFI unt semester ini. Yelah, walaupun mungkin jumpa lagi, environment tu dah tak sama mcm dlm kelas kan... di USIM kali ini aku ada 13 + 12 anak2 or adik2... (mana2 kategori pun boleh) - kat MFI 41 orang. So aku ingat alang2 dah raya tu, aku buatlah makan2 untuk anak2 aku ni - kira2 majlis perpisahan le tu...

Excited gak masa merancang majlis ni... yelah, aku ni sebenarnya anti-sosial sikit. Jarang ajak org dtg rumah, apa lagi ramai2 macam ni. Kedua, aku biasa masak untuk habis2 bnyk 4-5 org makan je... ni nak masak untuk ard 70 ppl... cam ne ek....? So, aku pun dapatkan le pertolongan anak2/adik2 angkat sulung aku untuk jadi bentara majlis la kononnya.

Alkisah, sibuk la sikit minggu tu. Aku ajak diorg dtg Sabtu petang jam 5, tp Jumaat malam baru aku sempat nak membeli bhn2 mentah nak masak. Dh tu org belakang rumah buat majlis birthday anak dia, kwn anak aku gak... so, kena la singgah. Since hajat hati nak menjamu laksa dan nasi goreng cina, terpaksa la aku berjaga sampai ke 4 pg menyiang ikan dan memotong ayam. Tu pun anak bujang aku si Irsyad dan anak angkat aku si Nabil dah tolong vacuum rumah dan settlekan muffin sampai jam 1 pagi.

Paginya pulak ada kerja, nk kena gi ofis IH... pas tu visit anak buah di hospital... dekat2 kol 2 baru sampai rumah babe... Kelam-kabut aku dibuatnya... Baru la nak perisi ikan yg aku rebus malam sebelum tu, nak kupas bawang dan bermcm2 lagi yg x sempat aku nak layan malam sebelumnya.

Bentara2 aku yg janji nak dtg tlg kol 2 datang lebih krg kol 4... Tu pun nasib baik datang... dapat le aku delegate kerja2 memotong itu dan ini yg remeh-temeh dlm pembuatan laksa tu kat diorg... Adik aku yg janji nak bawakkan dapur api besar dia tu pulak tak sampai2, so terpaksa la kitorg memulakan proses memasak kuah laksa menggunakan periuk besar (periuk kenduri) yg kupinjam dari mak aku, atas api dapur aku yang hidup segan mati tak mahu tu... Akibatnya, bila tetamu2 aku dh sampai lewat jam 5 tu, kuah laksa kitorang tu macam jauh je lagi nak mendidih...

Nasib baik adik aku sampai kala tu... dapatla tutup dapur aku dan guna api dapur dia. Boleh le sebelah masak laksa dan sebelah lagi wat nasi goreng cina. Urusan tu semua di ambil-alih oleh adik aku dan bentara2 di dapurku petang itu... Aku kena layan tetamu, tapi dgn makanan yg belum siap, mati kutu gak aku nak melayan diorg, habis2 pun takat pelawa suruh minum air dulu le...ahak ahak... Nasib baik lepas tu kuar le kuah laksa dan nasi goreng sikit2... tak tau le aku apa perasaan tetamu aku hari tu... susah2 datang, dah la jamuannya tak seberapa - kena lak tunggu lama macam tu. Dalam hati aku rasa serik nak kumpulkan diorang ramai2 mcm tu lagi... Tu pun students aku yg dari MFI x sampai 20 kerat yg dtg... Lepas2 ni kalau aku nak ajak diorg makan, aku ajak satu kelas demi satu kelas... pas tu pot luck... ha ha ha...

So... ni le rupa2 majlis aku hari tu...



MFI guests- all male, babe! Kalu suami aku ada, sure dia jealous tak pasal2.


Some of my USIM girls... (gambar tak cantik..anak aku yg amik...)
Girls, kalau u all ada gambar elok sikit, tlg email yek...

Piknik para penanggah (kat belakang rumah).



Sedia berkhidmat - Fazlan (USIM) dan Kamal (MFI)


Tak lupa ucapan terima kasih kepada Hamizah yang tak berhenti2 mencuci pinggan mangkuk.


Farah dgn misi membuat kek coklatnya... tak sangka Kamal pandai bagi konsultansi pasal kek...


Bentara2 aku yang lain melepaskan lelah... sis Nana, son Irsyad,
Fithri, Hasnur, Asila,
Mahmudah, Izzati, Adila...

Thanks everybody. All of you (baik yg sudi mampir, mahu pun yg tlg rewang) had made the recent hari raya a very meaningful one for me. Love all of you. Mmmmuah!!!

Monday, September 29, 2008

Di ambang perpisahan


Buka puasa with my first babies in USIM.

Ramadhan hampir pergi,
amalan tak cukup lagi,
masihkah ada umur kami,
untuk bertemumu sekali lagi?

Setiap kali kauhampir meninggalkan kami,
setiap kali itu aku berjanji,
akan kubuat itu dan ini,
jika diizinkan-Nya bertemumu lagi.

Setiap kali itu juga kurasa,
kaupasti berasa hampa,
apa kukata tidak dikota,
peluang yang ada kusia-sia.

Apa yg nyata aku jua yg rugi,
sedangkan engkau semakin pergi,
insya Allah kaukan datang lagi,
hanya aku yg tidak pasti,
apakah umurku masih berbaki,
untukku bertemu denganmu sekali lagi?

Wahai Ramadhan, selamat jalan,
mudah2an amalan kurangku ini diterima Ya Rahman,
segala khilafku Dia ampunkan,
dan umurku Dia panjangkan,
agar mampu bersamamu lagi di tahun hadapan.



Mom's birthday



Buka puasa with my new USIM kids:
Haziq, Nabila, Syaima, Fisha, Miza, Nurul, Ain, Safiyyah, Sa'adah, Fazren, Hani, Mu'azzah